Jakarta, 09 Desember 2009
Bertemakan The Amazing Stories of Indonesia, Sosro Heritage memperkenalkan kemasan baru yang edukatif dan interaktif, dimana dapat menyajikan budaya dan alam Indonesia dalam bentuk 3D, pada hari Rabu, 09 Desember 2009 di Harum Manis, Apartment Pavilion Retail Arcade Jakarta. Launching new packaging yang dihadiri oleh Culinary Expert sekaligus pendiri komunitas Jalan Sutera, Bondan Winarno; Natural and Landscape Photographer, Vebri Adrian; tim marketing PT. Gunung Slamat, juga dimeriahkan oleh pembacaan puisi Gratiagusti Chananya Rompas (pendiri Komunitas Puisi ‘Bunga Matahari’) yang diiringi dengan alunan biola Achi (SHE).
Teh premium warisan Indonesia
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia memiliki kekayaan alam luar biasa yang telah menghidupi jutaan jiwa masyarakat sejak berabad-abad silam. Bahkan karena begitu suburnya, kekayaan Indonesia ini diabadikan oleh band legendaris Koes Plus di dalam salah satu lirik lagunya yang berbunyi, “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu dan batu jadi tanaman ”.

Di dalam kekayaan alam tersebut pula, terdapat identitas bangsa yang tak ternilai seperti keanekaragaman suku, adat-istiadat dan hasil karya multi-kultur. Tengok saja keelokan Rancah Minang, keajaiban Candi Borobudur, keindahan Tana Toraja, kesakralan Ubud Bali, kecantikan Songket Palembang hingga keunikan kehidupan suku-suku di tanah Papua. Semua menjadikan Indonesia selalu tampak menarik dan berkesan di hati para insan yang menikmatinya.
Oleh karena itu, tak mengherankan jika hasil alam Indonesia selalu menjadi primadona kelas dunia, termasuk di dalam menghasilkan pucuk-pucuk daun teh berkualitas prima. Beranjak dari fenomena inilah PT. Gunung Slamat menciptakan produk asli Indonesia, teh celup Sosro Heritage, dan mempersembahkannya kepada bangsa. Teh Sosro Heritage ini dikemas dengan sentuhan pesona budaya tanah air, yaitu corak batik untuk meremajakan kemasan lama yang namanya teh celup Sosro premium.
Kemasan dari Sosro Heritage mengangkat konsep ‘story telling’ packaging. Setiap sisi dari kemasan mempersembahkan cerita-cerita edukatif mengenai warisan budaya Indonesia. Konsep rejuvenation Sosro Heritage ini memberikan respon atas kebutuhan dan keinginan masyarakat dimana Sosro Heritage bukan hanya sekadar teh premium, tetapi juga memberikan nilai-nilai edukasi untuk memperkaya pengetahuan tentang bangsa dan tanah air Indonesia sendiri.
Oleh karena itu, Sosro Heritage hadir dalam 12 edisi, di mana setiap edisi memiliki pecahan puzzle yang berbentuk peta. Jika ke-12 puzzle tersebut digabung, akan membentuk peta keseluruhan Republik Indonesia. Kemasan baru Sosro Heritage juga dapat menampilkan gambar dengan efek 3D, sehingga konsumen bisa menikmati langsung keindahan alam Indonesia.
Misalnya keharmonisan Tari Kecak Bali, keajaiban Candi Borobudur dan keindahan Taman Laut Bunaken.

Dengan kehadiran kemasan baru Sosro Heritage ini, diharapkan masyarakat bukan saja semakin mencintai produk asli Indonesia, tapi sekaligus bisa memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional. Pasalnya, wajah baru Sosro Heritage dapat menjadi alternatif pilihan oleh-oleh asli Indonesia ke mancanegara. Di sisi lain, dengan diangkatnya keindahan budaya Indonesia sebagai tematik kemasan Sosro Heritage, juga dikarenakan memiliki esensi yang selaras dengan makna mengkonsumsi teh itu sendiri.
Secara natural timbul rasa kedamaian di hati dan pikiran pun seolah disegarkan kembali, ketika menikmati keindahan alam,. Hal identik dengan saat menikmati secangkir teh (baik saat pagi hari sebelum beraktivitas maupun sore hari di sela-sela rutinitas kerja) Sosro Heritage mengajak masyarakat untuk dapat menikmati kedamaian melalui kedua hal tersebut, yaitu keindahan alam Indonesia dalam secangkir teh asli Indonesia. Pikiran yang damai dan tenang akan menghasilkan pribadi yang kuat dan penuh percaya diri.
Menurut pemerhati kuliner, Bondan Winarno, wajah baru Sosro Heritage menarik dan classy. Di mata pendiri komunitas Jalan Sutera ini, memang sudah saatnya Indonesia menghadirkan teh dengan tampilan berkelas. Pasalnya kemasan yang baik akan membuat produk teh lebih dihargai. “Akan tetapi, citarasanya juga harus istimewa. Untuk Sosro Heritage, pantas disajikan untuk fine dining atau santapan yang lebih serius,” ujar Bondan.
Lalu, bagaimana jika Sosro Heritage disandingkan dengan kuliner Indonesia? Bagi Bondan, bila dipadu-padankan dengan masakan Indonesia yang kaya bumbu, Ia memberikan resep. “Saya cenderung memakai teh hijau yang disedu daun mint, atau teh hitam yang disedu dengan sereh atau lemon. Namun bisa juga teh hitam yang disedu dengan jeruk nipis dan disajikan dingin dengan sedikit gula atau tanpa gula,” kata pecinta teh yang hobi menikmati teh saat santai ini.

Apresiasi minum teh di Indonesia
Kehadiran kemasan baru Sosro Heritage juga dimaksudkan untuk mengajak bangsa Indonesia agar lebih meningkatkan budaya minum teh, khususnya teh produksi lokal. Hal ini merespon fenomena yang terjadi bahwa tingkat konsumsi teh di Indonesia masih rendah, padahal Indonesia termasuk negara produsen teh terbesar di dunia. Kondisi ini sangat kontras dengan negara-negara produsen teh lain yang sudah menjadikan teh sebagai budaya masyarakat.
Wacana ini cukup memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian. Oleh karena itu, salah satu misi rejuvenation Sosro Heritage adalah mengkampanyekan betapa pentingnya mengapresiasi keberadaan teh di negeri sendiri. Apresiasi terhadap teh tersebut, bukan saja menjadikan teh sebagai salah satu prioritas minuman sehari-hari. Lebih dari itu, turut memperhatikan manfaat dan kualitas teh yang dikonsumsi. Sosro Heritage mengharapkan masyarakat sadar bahwa manfaat teh bukan hanya sekedar teman makan atau pelepas dahaga, tetapi juga baik untuk kesehatan. Dan teh yang menunjang kesehatan adalah teh berkualitas baik dan dikonsumsi dengan cara benar.
Keprihatinan senada juga diungkapkan oleh Bondan Winarno. Menurut Bondan, kebanyakan rakyat Indonesia tidak punya pengetahuan yang baik tentang teh, “Contohnya, berapa persen masyarakat yang tahu apa manfaat teh bagi kesehatan? Kemudian apa bedanya teh hijau dengan teh hitam? Bahkan cara menyeduh teh pun belum dipahami oleh banyak orang.” Kata Bondan. Oleh karena itu Bondan berharap, para produsen teh menciptakan kondisi untuk